Skip to content

Keistimewaan Wisata Religi di Masjid Agung Cianjur

  • by

Setiap daerah hampir semuanya memiliki masjid agung masing-masing tetapi selalu ada yang istimewa. Salah satu yang istimewa bisa Anda temukan di Masjid Agung Cianjur, Jawa Barat. Bangunan masjid tersebut memang tidak berbeda dari masjid agung kebanyakan yang berada di pusat kota. Tetapi bukan berarti masjid tersebut tidak memiliki keistimewaan.

Masjid Agung Cianjur tampak sangat mencolok diantara bangunan yang lainnya di pusat kota. Bangunan masjid memang sengaja dibuat dengan posisi lebih tinggi dari gedung lain di sekitarnya. Bukan tanpa maksud, tetapi posisi tersebut diartikan sebagai derajat masjid yang lebih dari bangunan apapun. Rasanya tidak banyak masjid agung yang menyertakan filosofi seperti itu dalam pembuatannya.

Bukan hanya filosofi pembangunannya saja yang menjadi daya tarik dari Masjid Agung Cianjur tersebut. Masih banyak hal lainnya yang cukup menarik untuk diketahui dan dijadikan alasan untuk datang kesana. Anda bisa memasukkan masjid yang berlokasi di Jalan Siti Jenab nomor 21, Pamoyanan, Cianjur ini.

Hal menarik apa saja yang akan Anda temukan jika melakukan kunjungan wisata religi kesana? Silahkan cek di bawah ini.

Table of Contents

Keistimewaan Masjid Agung Cianjur

pixabay.com

Berusia 2 Abad

Mungkin Anda tidak akan menyangka kalau bangunan masjid di pusat kota Cianjur tersebut sudah berusia ratusan tahun. Lebih tepatnya sekitar 2 abad atau 200 tahun karena sudah ada sejak tahun 1810 yang lalu. Memang sudah banyak renovasi yang dilakukan untuk merawat bangunan masjid agar tetap kokoh tetapi sejarahnya masih terasa. Totalnya masjid ini telah mengalami 7 kali proses renovasi.

Desain dan Bentuk Bangunan

Keistimewaan lainnya terletak pada desain dari bangunan masjid itu sendiri. Masjid agung yang berdiri gagah di Kota Cianjur tersebut memiliki 3 menara yang berada di atas bangunan utama. Sedangkan bangunan utamanya berbentuk joglo yang dalam bahasa sunda disebut dengan istilah nyungcut. Sehingga masjid tersebut juga disebut dengan Balai Nyungcut oleh masyarakat disana.

Pada bagian menara masjid terdapat hiasan dari ram kaca patri dan lampu malo di bagian atasnya. Lampu tersebut akan berfungsi untuk menyinari hiasan berupa kalimat Allah yang berada di dalam bulan sabit. Lampu menara ini akan mempercantik penampilan masjid terutama di malam hari.

Penggunaan Batu Alam

Kesan alami namun elegan pada masjid ini disebabkan oleh penggunaan batu alam pada beberapa bagian masjid. Batu alam dengan warna dominan hijau dipasan di bagian teras depan masjid berpadu dengan aneka bunga yang berada di halamannya. Keindahan juga akan Anda lihat pada bagian pintu masuk yang dilengkapi dengan langit-langit berbentuk ยผ kubah.

Pada bagian depan masjid Anda bisa melihat hiasan berupa lengkungan dengan corak khas Timur Tengah yang dipadukan dengan tradisi Indonesia. Semakin lengkaplah keindahan dari bagian luar desain Masjid Agung Cianjur.

Bagian Dalam Masjid

Keindahan tidak hanya bisa ditemukan di bagian luar masjid saja tetapi juga di bagian dalamnya. Selain menggunakan alas permadani terbaik dari toko karpet masjid terkemuka, masih banyak keindahan lainnya. Ruang induk yang berada di dalam masjid dibatasi oleh pintu dan ram dari kaca bergaya Timur Tengah dan Indonesia.

Diantara ruang induk tersebut terdapat selasar yang bisa difungsikan sebagai tempat untuk menjalankan shalat. Sedangkan pada lantai kedua dari masjid kita akan menemukan area yang melingkar. Area tersebut akan tembus ke lantai dasar dan dibatasi oleh hiasan khas Islam yang indah.

Keberadaan Masjid Agung Cianjur yang telah berumur 200 tahun tersebut tentu ada sejarah yang menyertainya. Berikut ini catatan sejarah yang ada pada masjid tersebut.

Sejarah Masjid Agung Cianjur

pixabay.com

Berawal dari Era Daendels

Gubernur Jenderal Daendels dikenal dalam sejarah telah membuat jalan raya sepanjang Pulau Jawa. Ruas jalan tersebut salah satunya melewati wilayah Cianjur termasuk di Jalan Siti Jenab tersebut. Jalan yang melewati wilayah tersebut merupakan jalan utama sebelum menuju arah Bandung. Di kawasan tersebut merupakan jalur utama dari Anyer ke Penarukan.

Sebagai jalan yang menghubungkan jalur Anyer- Penarukan otomatis terdapat banyak aktivitas yang terjadi disana. Itulah yang membuat kawasan tersebut menjadi vital bagi orang yang lewat di daeah tersebut. Dengan alasan inilah kemudian dibuatlah sebuah masjid yang dijadikan tempat ibadah bagi pribumi dan orang yang lewat.

Hancur Karena Bencana Alam

Dalam sejarahnya masjid ini pernah mengalami kehancuran fatal karena bencana alam. Pada tahun 1879 letusan Gunung Gede telah meluluhlantakkan bangunan masjid dan membawa banyak korban jiwa. Masjid dibangun kembali pada tahun 1880 oleh penghulu yang bernama RH. Soelaman.