Menikmati Indahnya Air Terjun Pengantin Di Ngawi, Jawa Timur

Menikmati Indahnya Air Terjun Pengantin Di Ngawi, Jawa Timur

Ketika mendengar nama air terjun ini, kamu mungkin teringat salah satu judul film horor Indonesia. Ternyata air terjun ini memang benar adanya, yakni terletak di daerah Ngawi, Jawa Timur. Air Terjun Pengantin tergolong air terjun yang masih ‘perawan’, belum terjamah banyak tangan manusia. Hal ini menjadikan kondisinya sangat alami dan rindang. Air terjun yang memiliki tinggi sekitar 12 meter ini memiliki sumber-sumber air yang berbeda. Salah satu dari keseluruhan aliran air berasal dari sumber mata air sungai lahar Gunung Lawu, tidak seperti sumber mata air lainnya yang berasal dari sumber mata air setempat. Karena sumber air yang bersanding seperti pengantin itulah, masyarakat kemudian menyebutnya menjadi Air Terjun Pengantin. Nama asli air terjun ini adalah Grojogan Ndungji atau Jumong.

Pengunjung air terjun yang berada di Kecamatan Ngrambe ini terus meningkat dari tahun ke tahun sejak diresmikan pada 2013. Seiring perkembangan potensi wisata Air Terjun Pengantin (ATP), pemerintah mengadakan perbaikan dengan menambah ornamen-ornamen wisata, seperti jembatan selfie, jembatan kapal, dan jembatan cinta. Ketiga jembatan ini biasa digunakan para pengunjung untuk berfoto dengan latar belakang air terjun. Ada pula gasebo untuk bersantai para pengunjung.

Mitos Di Kawasan Air Terjun

Selalu ada saja mitos yang mengikuti tempat wisata alam, begitu pula dengan ATP. Banyak yang percaya pada mitos bahwa membawa pasangan ke air terjun ini akan membuat hubungan mereka semakin awet. Mitos lain juga berlaku untuk suami istri. Apabila ada sepasang suami istri yang menyentuh air dari kawasan air terjun ini, maka hubungan rumah tangga keduanya akan semakin langgeng dan harmonis.

Air dari kawasan air terjun Pengantin ini pada zaman dahulu digunakan untuk melakukan ritual sebelum nikah. Pasangan penganting harus meminum air dari kawasan air terjun ini sebagai lambang bersatunya dua manusia berbeda ciptaan Tuhan. Ritual ini pertama kali dilakukan keturunan Adipatih Gendingan atau Eyang Galiman yang merupakan penyiar agama Islam di Dusun Besek.

Author Image
Yuniar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *